Better than Before

Hari ini sangat Indah. Banyak pembelajaran.

Pertama, saya sudah selesai dengan amanah dari seorang kakak kelas yang dulu tingkat 1 sangat sangat saya kagumi. Selesai menyelesaikan pembuatan video company Profile MITI dengan template seadanya. Hanya saja, saya merasa sangat gagal, karena memang keterbatasan waktu yang seharusnya pembuatan video seperti itu minimal seminggu. Oke saya bilang "Kak kurang maksimal ya maaf, kalau dikasihnya seminggu mungkin better dari ini". 

Better. Karena untuk better kita harus total, dan jarang sekali saya menemukan orang total dengan banyak keterbatasan termasuk waktu. Pemberitahuan dalam sistem operasi otak saya mengatakan "pembelajaran terdeteksi". Konsen untuk hal seperti ini untuk menjemput rezeki dari langit memang harus total, tidak peduli siapa kamu, lagi sibuk apa kamu, sudah makan apa belum. Konsumen tidak pernah mempedulikan hal itu. Lain kali untuk better mempersembahkan karya dan inspirasi harus terukur, bagaimana, seperti apa, dan kapan bisa selesai.


Kedua, malam ini seorang sahabat bertanya 

F : Zan, apa kabar?
O : Baik, alhamdulillah
F : Iman Sehat?
O : Alhamdulillah. Better than before. Ada apa nanya iman? Apa lu ngeliat gue jalan bareng ama cewek?
F : Ga liat sih
O : Terus kenapa tiba-tiba nanya begitu?
F : Karena gue peduli zan



Entah itu ucapan kepedulian murni atau abstrak, saya tidak mempedulikan. Karena jarang sekali, sekali lagi jarang sekali, seorang teman bertanya hal-hal kecil, yang kadang dia sendiri terlalu disibukkan dengan dunianya dan tak terlintas begitu saja. Maksudnya, hal kecil seperti itu sudah sangat membuat bahagia --dan betul, bahagia itu hal yang sederhana--, ketika kita masih ada orang yang peduli. Nangkep engga maksud saya?

Maka, tak layak ketika kita hidup di dunia yang tidak selebar layar smartphone, terlalu acuh terhadap teman dan sahabat baik.

Membagi Absolut

Memang saya harus berbenah, karena terlalu banyak rasa benci dan keluh yang berada didalam isi kepala. Membuat hati jauh dari kedamaian langit. Membuat mata tak lagi menangkap siluet dari sisi balik bayangan pelangi, yang berdenyut menggema 

Saya tak lagi bisa mendengarnya, karena sepasang telinga sudah tak mau bermain dalam temaram. Apalagi rasa khawatir yang menjalar, mencekik pesonamu...

Hari ini saya sadar, terlalu banyak masalah yang tidak perlu dikeluhkan, cukup nikmati saja dalam kebebasan yang harfiah. Kebebasan dalam menentukan cinta.

Semoga lelahmu menjadi saksi...


sebuah imaji dari wallfinest.com


-Blog berhentiberpijak.com telah bertransformasi semenjak hari ini, terhitung dari "sang inspirasi"-
Terima Kasih


Semangat Sang Semesta

Gue pengen cerita tentang hari Sabtu dan Minggu kemarin. Kalau master Oog way bilang,


Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the present

   Quote sederhana yang pecah banget.

   Gue bangun jam 8 pagi karena semalem baru bisa tidur jam 2 (habis subuh tidur lagi dong). Setelah terbangun dari senandung mimpi, gue terkaget dengan masuknya panggilan dari Novi, dia bilang dia perlu banget bantuan buat jadi operator di seminar nasional. Gue kaget lah,



semalem sih udah ditelepon Faaruq sih, tapi itu juga jam 9, dimana jam 7 sebelumnya  gue udah buat janji dengan teman-teman tim aerobik kelas untuk latihan. Yaudah gue akhirnya langsung berangkat tanpa sempat membasuh diri dengan segarnya milyaran bulir air, langsung menuju ke Auditorium untuk melihat situasi di meja operator. Dan, ternyata masih banget kurang persiapan teknis padahal seminar harus dimulai 15 menit lagi, ditambah laptop yang dipakai gue rasa tidak memenuhi standar (atau perasaan gue doang kali ya). Tapi gue cuman ngasih semangat kepada sang adik untuk tetap tenang menghadapi pengalaman pertama sebagai operator, tanpa memberitahu kemungkinan terburuk apa yang akan ia hadapi melihat keadaan yang ada.



  Setelah gue atur sana sini, gue cuman bisa bantu sampai sesi pemutaran video, dan itupun terjadi kesalahan teknis (backsoundnya nyala redup) karena laptopnya mungkin (gue juga megira-ngira aja) kurang kooperatif dengan equipment di situ.  Menurut gue kerja operator itu engga keren-keren amat dibanding ketua pelaksana, divisi humas atau sponsorship, namun perlu diketahui sukses tidaknya suatu event seminar dengan kerja keras selama 3 bulan akan ditentukan oleh rajutan kabel teknis di meja operator. Kalau terjadi kesalahan teknis sedikit saja, pasti banyak omongan hina yang menyalahkan operator tanpa mau tahu apa penyebabnya.

  Operator berinteraksi dengan mesin yang tidak punya telinga untuk mendengar keluhan kita, hanya persiapan dan pengetahuan yang dibutuhkan, tidak bisa kita bernegosiasi seperti kita bernegosiasi dengan pembicara, sponsor atau rumah katering.
  


  Engga tega banget sumpah gue mau ninggalin, apalagi ketua pelaksananya , Aldila Viddy itu sahabat gue banget, tapi mau gimana lagi terjadi miskomunikasi diantara kita, sehingga gue ngira memang udah siap banget sang operatornya.

  Pukul 9.15 gue harus langsung lari ke tempat berkumpulnya temen-temen tim aerobik, ternyata sudah berkumpul beberapa kepala menunggu gue. Langsunglah kita bergegas menuju tempat yang lebih luas untuk segera berlatih. Menit demi menit kita lalui, tapi gue masih melihat rona ketidakyakinan dari sang pelatih. Maka kemudian kamipun berkumpul untuk mendengarkan usulan tentang apa yang harus kita lakukan, mengingat sudah seminggu sebelum tampil kita masih belum mendapat apa-apa. Setelah berunding akhirnya diputuskan, kita mengundurkan diri dari pertandingan aerobik. Oke fine, gue sih engga masalah, kalau gue yang cuman semangat membawa nama kelas, tanpa dukungan semangat sang semesta, maka itu hanya akan jadi omong kosong belaka. Gue adalah bagian dari semesta, namun semesta tidak begitu mudah dipengaruhi karena semesta punya aturan main yang ia sukai.



  Pukul 12.30 gue bareng Rere pulang ke kontrakan untuk persiapan pertandingan sepak bola melawan Ekonomi Sumberdaya Lingkungan angkatan 49. Setelah bersiap-siap gue bareng Rere langsung menuju ke lapangan bola yang berkilau menebar pesan hangat dari sang mentari.

  Pada 10 menit pertama kita hanya bermain dengan 10 orang pemain, karena sosok laki-laki di kelas kita yang sadar bahwa dia laki-laki, yang sehat secara fisik, yang mau mengorbankan kesibukannya dan yang masih semangat itu sangat terbatas. Untung tidak lama Adli datang layaknya pahlawan dari antah berantah
.
.
.
Tendangan mencabik jarring gawang kita
1-0
.
.
Masih terus berjuang
.
.
.
2-0
.
.
.
3-0
.
.
.
Terjadi serangan dari tengah lapangan secara bertubi-tubi
.
.
.
4-0
.
.
.
Sedikit putus asa
.
.
.
5-0
.
.
.
Peluit panjang berbunyi.
.
.
.
.
 
  Semangat membara terlihat dari lini depan seperti Naufal, Sofwan, dan Adli, ditambah pertahanan tengah yang keras menggilas dari Amin dan Arno. Namun semangat sang semesta berpihak kepada tim lawan. Karena pertama kita sendiri engga yakin bakal menang, karena gurau awal sebelum kick off “Jangan terlalu kejem ya bantainya”, kedua, gue engga bisa main bola. Hehe (efek trauma patah tangan gara-gara main bola). :)
.
.
.
   Pukul 14.30 permainan berakhir. Gue inget kalau gue diperintah oleh Komandan Khadijah untuk menemui pak Hermanto di kampus diploma Cilibende untuk mengajukan proposal paper ekonomi syariah kita ke suatu Negara, karena menurut informasi beliau mengisi kajian tentang kenaikan BBM disana. Mengingat beliau adalah komisaris di suatu bank raksasa di Indonesia, maka gue pun berharap mendapat secercah harapan. Laju motor gue kebut untuk mengejar pertemuan ini. Sesampainya disana,

  Ternyata..

  Pak Hermanto sudah pulang.

  Gue jalan bareng sahabat gue, Rizal Arif, orang yang semangatnya selalu berkobar-kobar. Kita ngobrol banyak tentang semangat kita masing-masing untuk Indonesia. Dimana Rizal menceritakan cita-cita tinggi dia mengenai pengembangan sumber daya manusia Indonesia secara massal, dan gue menceritakan semangat gue yang tidak terarah yang “Pikir aja nanti yang penting mimpi aja dulu” sehingga dia sebut “Jan, lu telah melalui hidup 21 tahun yang penuh kebodohan”. Oke fine, masing-masing orang memaknai semangat dengan cara yang berbeda, sampai usaha itu dikabulkan Allah Sang Maha Bijaksana untuk bersanding menemani semangat sang semesta.



  Gue sampai di kontrakan ketika adzan maghrib berkumandang. Setelah istirahat sebentar, pukul 18.30 gue berangkat lagi ke kampus buat menyemangati tim bulutangkis kelas yang diwakilin Amin, Azizah dan Nafi. Semangat gue selalu gue persembahkan untuk mereka, karena sang komti  juga jarang melibatkan gue dalam olahraga permainan seperti ini, jadi cukup jadi tim hore saja.

  Pertandingan bulu tangkis berlangsung sangat seru. Tapi terpaksa kami harus menerima kekalahan dari Eksyar 50 yang begitu tangguh (ini juga dikarenakan ganda putra harus kalah W.O karena Muhe berhalangan hadir). Ah sudahlah. Yang penting semangat kami terus mengembara sepanjang hari ini.

  Selesai mempersembahkan semangat kita hari ini, kita pulang dengan kekhawatiran tentang kaki Amin yang terkilir. Engga tega banget ngeliatnya, amin berteriak dan menahan sakit selama beberapa menit. Sebuah harga yang dibayar untuk pengorbanan nama baik kelas dan angkatan. Sampai di rumah gue masih terpaku di depan laptop untuk mencari inspirasi dan ide segar sampai larut sekali. Sesekali terkejut oleh isak Amin yang mengerang menahan sakit di kakinya.

  Minggu

  Setelah bangun dan mempersiapkan semangat kembali, gue harus meluncur menerima undangan Ilmu Ekonomi 50 menghadiri IE-Melangit jilid II. Sebuah mimpi gue yang gue kira hanya imaji, namun sekarang berubah menjadi kenyataan yang terus memberi inspirasi bagi puluhan anak SD disana untuk tetap semangat melambungkan cita-cita mereka. IE melangit ini pernah gue pimpin, dan pernah diragukan oleh beberapa kepala yang ingin sesuatu yang "lebih nyata", tapi kita berhasil menjawab keraguan dan mempersembahkan untuk mereka yang pernah meragukan.

Hari Kreasi IE-Melangit 2013

IE-Melangit 2014



Gue bangga dengan anak IE 50 :)

  Setelah menanam tetumbuhan dan mengecat ember, IE melangit disudahi (untuk agenda hari ini). Gue balik ke kontrakan untuk mengistirahatkan pikiran sejenak. Pukul 16.00 gue bareng Amin dan Rere kembali meluncur menuju kampus untuk menemani temen-temen perempuan latihan voli untuk bertanding hari senin ini. Setelah melihat keadaan aman dengan temen-temen perempuan yang semangat menembus rintik hujan, gue bareng amin lari satu putaran kampus, mempersiapkan fisik untuk tanggal 12 Oktober menuju Mahameru (Insha Allah). Hujan turun begitu dama menemani setiap derap kaki diatas tanah lembab dengan lirih suara butir air.
  Adzan Maghrib berkumandang arti kita harus menyudahi aktivitas. Sesampai di rumah dan membersihkan badan, gue dapat sms akan ada kumpul tim pendanaan LSM Inovasia. Sambil menunggu hujan gue browsing dan ngaskus. Tapi kok hujannya gak reda-reda ya. Okelah gue sabar. Semakin larut hujannya belum berhenti, akhirnya kak Kausar nyuruh gue gak usah berangkat, karena udah pada mau bubar. Yaudahlah, gue melewatkan (lagi) kumpul dengan tim pendanaan.

  Gue akhiri hari dengan pesan damai buat jiwa gue sendiri, dimana gue sudah memaksimalkan semangat agar pantas menemani semangat sang semesta.

Pekerjaan Terbaik adalah Hobi yang Dibayar


Pas mau nyari inspirasi buat nulis, gue teringat quote dari Pak Ridwal Kamil pas nonton video TEDx

Pekerjaan terbaik adalah Hobi yang dibayar

Trus gue mau daftar dong apa aja hobi gue dan apa cocok buat dijadiin sebuah pekerjaan. Coba dulu ah.

 1.  Sepedaan 


Bunny Hop aja masih cupu kek gini


Gue seneng banget yang namanya sepedaan, karena olahraga ini keren dan murah. Tapi sekarang gue lagi seneng banget naik DJ, walaupun frame DJ gue berat, gue tetep berusaha jadi rider yang keren.

Hobi ini menurut gue gak bisa buat jadi pekerjaan, karena gue harus bener-bener latihan setiap hari ama banyak bikin video promo sampai jadi Profesional Rider trus Red Bull dan Inspired Bike mau mensponsori kayak MacAskill gitu.

Danny MacAskill sang idola gue

Gak keren juga sih kalau ini dijadiin kerjaan, ntar kalau gue udah punya anak, dan dia ditanya apa pekerjaan ayahnya, masak iya jawabannya "Tukang Naik Sepeda", walaupun kenyataannya pekerjaan seorang Extreme Rider sangat dihargai dan bergaji mahal. Respect untuk semua Rider di seluruh negeri ini.


 2. Demonstrasi


Ini demo menuntut agar Pak Abraham Samad segera menyelesaikan kasus Century
Demonstrasi adalah sebuah usaha untuk mengingat pemerintah ketika ada kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Gue seneng demo karena gue merasa ada jiwa Soe Hok Gie dalam diri gue saat itu. Karena kalau gak ada demo, Rezim Soeharto engga akan turun. Intinya demo itu sebuah aksi nyata untuk membela kepentingan rakyat.

Gue seneng demo, dari demo DPR, Walikota sampai Presiden udah gue cobain tapi kalau gue menjadikan hal ini sebagai pekerjaan atau untuk mendapatkan uang, berarti gue turun dijalan atas nama uang bukan atas nama keadilan yang terbelenggu. Eeaaaaa.

Ini engga demo sih, tapi keren aja buat dipost
Ini gue (yang mana hayo) waktu teatrikal di depan gedung KPK. Diliput kabarkampus.com


 3. Bikin Film, Layout Grafis dan Fotografi

Ini pas bikin Film SMA. Gue yang pakai kacamata. Ditemani asisten, penyunting adegan dan aktornya
Seperti yang udah dijelaskan di posting sebelumya tentang, makna sebuah Film, gue emang hobi membuat sebuah Film, walaupun dengan tools yang seadanya banget, dan hasilnya pun masih amatiran, gue tetep menikmati setiap frame dalam membuat film

Gue juga seneng membuat poster, fotografi atau karya visual lainnya, tapi gue engga berani menyebut diri gue sebagai desainer grafis atau fotografer, karena memang untuk menjadi seorang profesional perlu Evolusi yang cukup lama.

Dua hal diatas gue seneng banget buat lakuin tapi males juga kalau punya kerjaan yang nantinya cuman memvisualisasikan produk atau jasa orang lain, atau ujung-ujungnya di broadcasting yang pasti dikejar-kejar deadline, padahal masih ada jabatan yang kira-kira duitnya lebih banyak dan bisa buat bayar pekerjaan ini.

Ini Foto selfie gue jam setengah 4 pagi habis lapsing bintang. Agak blur karena pakai slow shutter gitu

Gue: Rem sini, gue buatin sayap keren

Gantian bikinin gue dong rem -_-



 4. Aksi Lingkungan & Aksi Sosial

Ini waktu gue nanem pohon bakau di Pangandaran, Aksi nyata buat antisipasi Tsunami

Memang sih kepedulian untuk menjaga lingkungan di negeri ini kurang banget. Kepedulian yang seharusnya tertanam pada setiap individu. Kalau kepedulian masyarakat besar, mana mungkin ada banjir, mana mungkin ada tanah longsor.

Ini waktu gue sama temen-temen Ilmu Ekonomi ngajar les gratis buat anak SDN Cihideung ilir 5

Ini anak-anak SD itu gue ajak nonton perlombaan Aerobik di the 6th Sportakuler. Sekalian ngajarin tentang kerjasama tim

 Aksi untuk Lingkungan dan Sosial butuh perhatian yang sangat besar. Kalau saja ada banyak orang yang tergerak hatinya untuk sama-sama peduli dan turun langsung untuk kedua hal ini, pasti akan banyak sekali pahala dan manfaat yang mengalir. Tapi untuk sebuah pekerjaan, rasa-rasanya gue engga tega mengambil keuntungan untuk pribadi, yang ada kita bareng-bareng menggalang dana untuk aksi ini. Respect untuk semua relawan lingkungan dan relawan sosial yang tergabung dalam puluhan lembaga resmi yang tersebar di seluruh negeri, atasnama kemanusiaan, saya akan berjuang bersama-sama kalian.


 5. Naik Vespa

Yang item Vespa gue, yang tengah itu keponakan gue namanya Arkhan, yang Pink Vespa kakak cewek gue

Ini hobi yang engga jelas sih menurut gue. Tapi rasanya itu nikmat banget (sumpah) kalau gue muter-muter kota naik Vespa. Ada sensasi luar biasa di setiap geberan gas. Tapi ya mana mungkin hobi kek gini dijadiin pekerjaan. :)

Gue sih kalau muter-muter ya paling ama adek kalau engga ya sekeluarga aja, karena pernah kita punya 4 vespa, tapi sekarang sih tinggal 3. Jadi Umi ama abah berduaan, gue ama adik gue, Naya, terus kakak cewek gue sendirian, terakhir kakak gue yang cowok ama anak istrinya. Damai gitu rasanya kita sekeluarga turing kecil-kecilan.

Kakak gue yang cewek, Fauziah namanya, dia hebat banget, udah gabung di club terus temennya banyak dan udah muter-muter kemana aja.

Kakak gue yang kanan. Dia lagi turing bareng club vespanya

 6. Main Karambol

Ini cuman buat ngilangin rasa jenuh aja sih. Tapi beneran nikmat kalau main karambol pas libur UTS bareng temen-temen ampe pagi

Gue lagi gak dapet giliran main.


 6. Nyobain Hal Baru

Gue sih paling seneng nyobain hal baru. Ada BMX nganggur gue cobain, ada skateboard nganggur gue cobain, ampe jatuh lecet, berdarah-darah gitu, tapi tetep gue coba ampe paling gak bisa loncat-loncat aja. Ada tebing gue loncatin, ada yang jual biola gue beli, ada yang ngajak bolos pas SMA gue ikutin, and many more. Seru aja sih mencoba hal-hal baru.

Tapi untuk sebuah pekerjaan, kita engga boleh coba-coba. Karena ada faktor tanggung jawab dan profesionalisme yang hubungannya ama dunia sosial kita bukan hanya sekadar memuaskan rasa ingin tau

Ini gue pertama kalinya nyoba surfing. Selalu jatuh dan terhempas, sampai yang membuat gue berhenti adalah pas ombak datang kena papan, kena jidat gue, dan darah pun mengucur deras



 7. Jalan-Jalan Bareng Keluarga

Jalan-jalan keluarga gue ke pantai (minus kakak gue yang cowok, Ridwan)

Jalan-jalan bagi siapapun pasti alternatif buat melepas penat. Termasuk gue. Gue hobi banget jalan-jalan ditemani orang yang spesial dan berarti.

Emang sih banyak acara jalan-jalan yang disiarkan di tv, yang artinya jalan-jalan bisa menjadi hobi sekaligus pekerjaan. Tapi menurut gue jalan-jalan adalah hal yang sangat penting untuk dinikmati untuk jiwa, maksudnya kalau ujung-ujungnya pekerjaan ya sama aja bo'ong. Kapan refresing nya kalau begitu?

Kecuali kalau jalan-jalannya ke luar negeri dan gratis, paling kan suruh mengulas suatu tempat beberapa menit, sisanya kita bisa menikmati tempat itu seoarang diri. Mengambil nafas dalam-dalam dan merasakan oksigen yang berbeda. Itu gue mau banget

Jalan-jalan keluarga Inovasia

Jalan-jalan keluarga Kreasi untuk Negeri



 8. Nonton Konser

Setiap gue nonton konser pasti gak punya dokumentasi. Pas gue nonton konser SID ama the S.I.G.I.T hape gue ilang, mungkin sih jatuh waktu moshing. Terus pas nonton Iwan Fals, eh hape Dwi memorinya habis dan gak ada hape lagi (dalam artian hape gue sekarang nexian boleh minjem).

Menurut gue nonton konser adalah salah satu alternatif murah buat ngumpul bareng orang-orang yang selera telinganya sama. Tapi gue sebel kalau ada konser lagu-lagu cengeng. Pernah sih gue jadi penyelenggara konser kek gitu (tuntutan organisasi) dan gue gak menikmati sama sekali, gue cuman tidur pas kerjaan gue jadi multimedia di pegang orang lain. Dan gue sebel kalau cewek foto ama musisi kalau musisinya itu modal tampang doang. Hey mbak, lu nikmati lagu atau muka?

Tapi mana ada nonton konser di bayar, kecuali jadi crew Event Organizer konser tersebut, tapi yang ini mah pasti rieweuh dan gak bisa nikmatin. Udah ah, mending bayar daripada dibayar kalau ujung-ujungnya gak bisa nikmatin hobi



 9. Main Band

Ini pas perlombaan IAC. Gak menang sih,

 Dulu pernah sih cita-cita jadi pemain band. Tapi pas ngelihat Gito Rollies berhenti main musik dan memutuskan jadi dai, dan meninggalnya damai banget wajahnya. Ah, udahlah ini cuman hobi aja. Apalagi gue baca di underground tauhid kemarin, Gerard Way berhenti dari MCR karena memang keidupan di band itu gak enak. Dia milih hidup sederhana membesarkan anak dalam keluarga yang lengkap. Keren juga gue pikir nih si om Gerard. Menginspirasi. Apalagi ada tuh basis legendaris siapa lupa namanya gue, yang memutuskan berhenti main musik dan jadi hafizh quran 30 juz, sama halnya dengan Sakti SO7 dia sekarang jadi ustadz keren gitu. Sebelum terlambat, gue gak mau terlalu terjerumus dalam dunia permusikan ini deh.




 10. Belajar dan Mengajarkan Quran

Gue sih gamau kelihatan soleh. Tapi tetep ini bukan sebuah keinginan biasa. Tapi menurut gue ini sebuah kewajiban manusia. Gue sih ngeri aja ngeliat di kampung gue masih banyak yang yasinan, tahlilan, solawatan gak jelas gitu. Itu sih ya karena memang mereka gak ngerti isi kandungan Al-Quran. Yang ada dibaca, dibolak balik ampe khatam tanpa mau pelajarin maknanya. Ya gue si ada tanggung jawab pengen ngajarin orang-orang desa yang udah sepuh cara solat, doa yang shahih itu kek gimana, cara wudhu, larangan agama itu kek gimana. Simpel sih. Cuman kita mau belajar, terus diajarin, udah gitu aja, engga ngomongin masalah negara melulu

Menurut gue hina banget kalau seorang dai menjadikan hal ini menjadi pekerjaan, apalagi pasang tarif. Semoga aja mereka lekas dibukakan pintu hidayah. Amiin


 11. Belajar Bikin Fiber Glass

Ini nih hobi terakhir. Ini semoga aja menjadi pekerjaan gue nanti. Simpel sih, bikin, pasarin, jual. Menurut gue pasar fiber glass ini luar biasa. Ya ini hobi gue banget, membuat suatu pola yang sebelumnya belum terpikirkan polanya oleh siapapun.

Gue dikenalkan Fiber ini oleh Om Agus. Dia adalah Master dalam Fiber Glass. Gue sih berharap besar gue bisa berguru banyak untuk menjadi Master pula

Om Agus lagi selfie bareng Babeh Iwan Fals. Bikin Ngiri

Jalan Bareng Keluarga Gue


Mungkin ini termasuk salah satu memori gue bareng  keluarga gue Ekonomi Syariah 49 IPB. Gue yakin perjalanan ini merepresentasikan perjalanan kesuksesan kita